Saturday, 31 August 2013
Album_islam, Quran & Hadith
https://www.facebook.com/amatullah.u.a/media_set?set=a.10201959465252164&type=1
Lectures_Suhaib web
http://www.suhaibwebb.com/lectures/
General Talks and Khutbahs
Date Title Listen Length
General Talks
09/23/2005 Ramadan 101 71′ 11″
07/26/2008 Successful Marriages 23′ 52″
08/01/2008 The Family of Umm Sulaym 40′ 51″
08/15/2008 Cisco and Sujood 69′ 24″
08/23/2008 Ramadan Spiritual Revivalism 47′ 04″
08/23/2008 Ramadan Spiritual Revivalism Q&A 46′ 24″
09/05/2008 Moving Towards a Distribution of Responsibilities 24′ 47″
09/27/2008 Qiyaam Program 49′ 25″
09/27/2008 Qiyaam Program Q&A 56′ 25″
10/05/2008 The Case For Political Participation 31′ 09″
10/05/2008 The Ruling on Political Participation 58′ 07″
07/23/2009 Lessons from Al-Israa Wa Al-Mi’raaj (The Night Journey) 67′ 22″
08/07/2009 Advice On How To Develop A Relationship With The Qur’an 04′45″
08/15/2009 Revenge of the Fallen 54′22″
08/25/2009 Getting Back to Allah 90′48″
08/27/2009 Ramadan Primer 51′12″
09/15/2009 Hijab and Holding to the Truth 06′01″
09/16/2009 Mercy, Forgiveness, Paradise (The 10 last days of Ramadan) 08′52″
10/08/2009 Maintaining the Ramadan Momentum 34′46″
10/21/2009 Understanding the Seerah 83′51″
10/25/2009 Roundtable on Social Issues 103′52″
Jumu’ah Khutbahs
08/15/2008 Synchronized Seerah 23′ 04″
09/05/2008 Establishing a True Understanding of Islam 21′ 01″
10/10/2008 Drops from Surah al-’Asr 26′ 32″
07/24/2009 Either You’re Calling or Being Called! 23′ 27″
08/25/2009 The Prophetic Legacy of Da’wah 23′ 50″
08/30/2009 The Month of Ramadan 25′ 42″
09/14/2009 The People of Repentance 25′ 52″
Other Speakers
09/05/2008 Rising to the Occasion – Ustadh Usama 10′ 15″
09/05/2008 Advice to Young Sisters – Imam Faheem Shuaibe 11′ 06″
09/27/2008 Qiyaam Program – Imam Zaid Shakir 41′ 08″
10/05/2008 Civic Participation – Keith Ellison 23′ 54″
Commentary and Tafsir
Date Title Listen Length
Tafsir of Surat al-Kahf
07/16/2008 Surat al-Kahf Part 1 67′ 28″
07/23/2008 Surat al-Kahf Part 2 67′ 35″
07/30/2008 Surat al-Kahf Part 3 65′ 24″
08/05/2008 Surat al-Kahf Part 4 60′ 32″
08/13/2008 Surat al-Kahf Part 5 63′ 05″
08/20/2008 Surat al-Kahf Part 6 67′ 49″
08/27/2008 Surat al-Kahf Part 7 61′ 12″
Tafsir of Surat al-Fatihah
2003 Surat al-Fatihah Part 1 82′ 26″
2003 Surat al-Fatihah Part 2 61′ 15″
2003 Surat al-Fatihah Part 3 80′ 33″
2003 Surat al-Fatihah Part 4 67′ 20″
2003 Surat al-Fatihah Part 4 Q&A 42′ 46″
2003 Surat al-Fatihah Part 5 64′ 33″
2003 Surat al-Fatihah Part 6 72′ 50″
Tafsir of Surat al-Hujuraat
2008 Surat al-Hujuraat Part 1 71′ 45″
2008 Surat al-Hujuraat Part 2 71′ 18″
2008 Surat al-Hujuraat Part 3 75′ 55″
Tafsir of Surat Luqman
08/04/2009 Surat Luqman 1 64′01″
08/07/2009 Surat Luqman 2 68′03″
08/13/2009 Surat Luqman 3 61′47″
Series
Date Title Listen Length
Servants of the Merciful
10/02/2008 Servants of the Merciful 1 47′ 10″
10/04/2008 Servants of the Merciful 2 34′ 24″
Towards A Sound Understanding of Islam
08/10/2009 Session 1 66′39″
08/14/2009 Session 2 63′34″
In the Early Hours (Book)
09/01/2009 In the Early Hours 1 43′55″
09/12/2009 In the Early Hours 2 37′19″
10/05/2009 In the Early Hours 3 29′53″
For any questions or suggestions, please email the webmaster.
Doa tahan kentut
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=3196470394592&set=a.10201946370164795&type=1&permPage=1
Friday, 23 August 2013
Puasa 6
Lima Faedah Puasa Syawal
Alhamdulillah, kita saat ini telah berada di bulan Syawal. Kita juga sudah mengetahui ada amalan utama di bulan ini yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Apa saja faedah melaksanakan puasa tersebut? Itulah yang akan kami hadirkan ke tengah-tengah pembaca pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.
Faedah pertama: Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”[1]
Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan).[2] Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) »
“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal][3].”[4] Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan semisal dan inilah balasan kebaikan yang paling minimal.[5] Inilah nikmat yang luar biasa yang Allah berikan pada umat Islam.
Cara melaksanakan puasa Syawal adalah:
Puasanya dilakukan selama enam hari.
Lebih utama dilaksanakan sehari setelah Idul Fithri, namun tidak mengapa jika diakhirkan asalkan masih di bulan Syawal.
Lebih utama dilakukan secara berurutan namun tidak mengapa jika dilakukan tidak berurutan.
Usahakan untuk menunaikan qodho’ puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa setahun penuh. Dan ingatlah puasa Syawal adalah puasa sunnah sedangkan qodho’ Ramadhan adalah wajib. Sudah semestinya ibadah wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah.
Faedah kedua: Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib
Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah.[6]
Faedah ketiga: Melakukan puasa syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan
Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal.[7] Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf,
مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.”[8]
Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”[9]
Renungkanlah! Bagaimana lagi jika seseorang hanya rajin shalat di bulan Ramadhan (rajin shalat musiman), namun setelah Ramadhan shalat lima waktu begitu dilalaikan? Pantaskah amalan orang tersebut di bulan Ramadhan diterima?!
Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa Saudi Arabia) mengatakan, ”Adapun orang yang melakukan puasa Ramadhan dan mengerjakan shalat hanya di bulan Ramadhan saja, maka orang seperti ini berarti telah melecehkan agama Allah. (Sebagian salaf mengatakan), “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.” Oleh karena itu, tidak sah puasa seseorang yang tidak melaksanakan shalat di luar bulan Ramadhan. Bahkan orang seperti ini (yang meninggalkan shalat) dinilai kafir dan telah melakukan kufur akbar, walaupun orang ini tidak menentang kewajiban shalat. Orang seperti ini tetap dianggap kafir menurut pendapat ulama yang paling kuat.”[10] Hanya Allah yang memberi taufik.
Faedah keempat: Melaksanakan puasa syawal adalah sebagai bentuk syukur pada Allah
Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan?!
Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.”[11] Sampai-sampai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ’Aisyah radhiyallahu ’anha mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,
أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?”[12]
Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir ”Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)
Begitu pula para salaf seringkali melakukan puasa di siang hari setelah di waktu malam mereka diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan shalat tahajud.
Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus: ”Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.
Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).”[13]
Faedah kelima: Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja[14]
Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan.
Sebagian manusia begitu bergembira dengan berakhirnya bulan Ramadhan karena mereka merasa berat ketika berpuasa dan merasa bosan ketika menjalaninya. Siapa yang memiliki perasaan semacam ini, maka dia terlihat tidak akan bersegera melaksanakan puasa lagi setelah Ramadhan karena kepenatan yang ia alami. Jadi, apabila seseorang segera melaksanakan puasa setelah hari ’ied, maka itu merupakan tanda bahwa ia begitu semangat untuk melaksanakan puasa, tidak merasa berat dan tidak ada rasa benci.
Ada sebagian orang yang hanya rajin ibadah dan shalat malam di bulan Ramadhan saja, lantas dikatakan kepada mereka,
بئس القوم لا يعرفون لله حقا إلا في شهر رمضان إن الصالح الذي يتعبد و يجتهد السنة كلها
“Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin ibadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah bukan hanya di bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja.
Asy Syibliy pernah ditanya, ”Bulan manakah yang lebih utama, Rajab ataukah Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Sya’baniyyin.” Maksudnya adalah jadilah hamba Rabbaniy yang rajin ibadah di setiap bulan sepanjang tahun dan bukan hanya di bulan Sya’ban saja. Kami kami juga dapat mengatakan, ”Jadilah Rabbaniyyin dan janganlah menjadi Romadhoniyyin.” Maksudnya, beribadahlah secara kontinu (ajeg) sepanjang tahun dan jangan hanya di bulan Ramadhan saja. Semoga Allah memberi taufik.
’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah mengenai amalan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً
”Beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (ajeg).”[15]
Amalan seorang mukmin barulah berakhir ketika ajal menjemput. Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan ajal (waktu akhir) untuk amalan seorang mukmin selain kematian.” Lalu Al Hasan membaca firman Allah,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
”Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).[16] Ibnu ’Abbas, Mujahid dan mayoritas ulama mengatakan bahwa ”al yaqin” adalah kematian. Dinamakan demikian karena kematian itu sesuatu yang diyakini pasti terjadi. Az Zujaaj mengatakan bahwa makna ayat ini adalah sembahlah Allah selamanya. Ahli tafsir lainnya mengatakan, makna ayat tersebut adalah perintah untuk beribadah kepada Allah selamanya, sepanjang hidup.[17]
Sebagai penutup, perhatikanlah perkataan Ibnu Rajab berikut, ”Barangsiapa melakukan dan menyelesaikan suatu ketaaatan, maka di antara tanda diterimanya amalan tersebut adalah dimudahkan untuk melakukan amalan ketaatan lainnya. Dan di antara tanda tertolaknya suatu amalan adalah melakukan kemaksiatan setelah melakukan amalan ketaatan. Jika seseorang melakukan ketaatan setelah sebelumnya melakukan kejelekan, maka kebaikan ini akan menghapuskan kejelekan tersebut. Yang sangat bagus adalah mengikutkan ketaatan setelah melakukan ketaatan sebelumnya. Sedangkan yang paling jelek adalah melakukan kejelekan setelah sebelumnya melakukan amalan ketaatan. Ingatlah bahwa satu dosa yang dilakukan setelah bertaubat lebih jelek dari 70 dosa yang dilakukan sebelum bertaubat. ... Mintalah pada Allah agar diteguhkan dalam ketaatan hingga kematian menjemput. Dan mintalah perlindungan pada Allah dari hati yang terombang-ambing.”[18]
Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita untuk istiqomah dalam ketaatan hingga maut menjemput. Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan dan memudahkan kita untuk menyempurnakannya dengan melakukan puasa Syawal.
________________
[1] HR. Muslim no. 1164, dari Abu Ayyub Al Anshori
[2] Syarh Muslim, 4/186, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah.
[3] QS. Al An’am ayat 160.
[4] HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1007.
[5] Lihat Fathul Qodir, Asy Syaukani, 3/6, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah dan Taisir Al Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 282, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H.
[6] Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]
[7] -idem-
[8] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]
[9] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.
[10] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ke-3, Fatawa no. 102, 10/139-141
[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 394.
[12] HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820.
[13] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 394-395.
[14] Pembahasan berikut kami olah dari Latho-if Al Ma’arif, hal. 396-400
[15] HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783
[16] Latho-if Al Ma’arif, hal. 398.
[17] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/79, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah
[18] Latho-if Al Ma’arif, hal. 399.
Sumber: via FB status SH Nor Farah (penulis tidak diketahui)
Monday, 19 August 2013
Kuliah, tazkirah, khutbah Ramadhan Abuanasmadani
http://abuanasmadani.blogspot.co.at/2013/07/kuliah-tazkirah-khutbah-ramadhan-1434h.html
Saturday, 3 August 2013
Tadarus dan Tausiah Ramadhan minggu ke 3 bersama Ust. Didik Nur Haris Al-Hafidz
Tadarus dan Tausiah Ramadhan minggu ke-3
(Tarikh: 22 Ramadhan 1434H = 2.8.2013)
(Bersama Yg. Bhg Ust. Didik Nur Haris Al-Hafidz)
Nota ringkas Tausiah:
QS 94
1) Nikmat dilapangkan dada.
Apa manfaatnya?
Beban yg berat pun dirasa ringan.
Kata kuncinya ialah HATI
Perintah agama ini satu ujian (QS 2:124)
Allah uji Nabi Ibrahim a.s. dgn ungkapan & berbagai ujian.
Ujian ini berat (mampu diringankan dgn berlapang dada).
Sesungguhnya bersama kesulitan ada KEMUDAHAN.
(QS 90:4)Al-Balad
Kalau komit dgn petunjuk agama-> ada ketenangan -> Kelapangan dada.
Setiap kesulitan ada memudahan.
Inna ma'alyusri yusra.
QS 57: 22
Allah cipta pertama sekali: Al- Qalam (50,000 sebelum dicipta langit & bumi)
Surah Al-A'raf- daun yg jatuh pun sudah ada catatan.
Takdir Allah (al'Alim (maha Mengetahui) & al-Hakim (maha Bijaksana).
QS 57: 23
2 hikmahnya:
1) kita dilatih supaya tidak berputus asa/resah dgn apa yg kita tidak dapat. Ada yg mengatur (pengaturan Allah sgt bijak)
2) agar tidak terlalu bangga.
Tawakal saja pada Allah.
Sungguh agung org yg MEMILIKI IMAN. Emosinya dapat dikawal -> Stabil (besyukur di kala senang; bersabar dan redho di kala susah.
(semuanya tenang & redho').
Saat diuji: sangat sulit.
Cara meringankan: Bayangkan musibah yg ditanggung masih lagi ringan
(supaya tidak terasa berat menerima dugaan)
Ujian yg paling berat ialah apabila melibatkan 'perkara agama':
ie Ujian Hidayah & istiqamah, iman & amalan).
ILMU sangat penting
- cari & buka ayat - ayat Al-Quran yg boleh meringankan (cth: dgn selalu menyebut asmaulhusna yg 2 tadi (al'Alim & al-Hakim )
-Tahan banting (cekal & tak lupa diri).
Hadith:
-> yg membawa maksud: tidak ada yg Allah ambil kalau kita redho, melainkan dibalas dgn Syurga (note: perlu dicari hadith asal).
SABAR
-Sesungguhnya ilmu itu diperolehi dgn belajar
dan Sabar itu perlu berlatih
QS 2:155-157
-Kita pasti diuji... (Ketakutan. Kehilangan......)
-Beri khabar gembira kepada org yg diuji/ditimpa musibah (berikan kata-kata optimistik)
Kalau menggembirakan saudara kita , 100,000 malaikat mendoakan kita). Ucapan Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un (انا لله وانا اليه راجعون)
(Allah langsung redha kpdnya).
Org diuji yg mendapat petunjuk.
Sakit: Allah akan gugurkan dosanya
1)Selalu bahagiakan hati ( buka/ cari ayat)
2) ucapkan Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un (انا لله وانا اليه راجعون)
Selawat dari Allah (ialah DOA)
Hadith: Mengenai nikmat Allah yg diambil semasa sakit:
Selera org yg sakit diambil, seri wajahnya diambil........, dosanya diambil....
Bila sembuh seleranya dikembalikan, seri wajahnya dikembalikan.... tapi dosanya tidak dikembalikan (MasyaAllah, sungguh Allah itu MAHA PENYAYANG!)
QS3:165
Allah mahu membersihkan dosa (dgn ujian-ujian- semakin besar semakin bersih, saat sakaratulmaut, fitnah kubur, ketika dikumpulksn di padg mahsyar... ).
Hadith Qudsi -> aku tergantung kpd prasangka hambaku (nota: perlu dicari unsur hadith asal ini).
(Takut dan berharap )
Jgn sebut keburukan org yg ditimpa musibah, hanya kebaikan -> zon positif
Hadith Kartu: berat shahadatain (jgn ptus asa, selalu mengharap. Semakin diuji semakin kuat imannya.
Selalu libatkan Allah (ie selalu 'relate' dgn Allah).
QS Al- ISRA' 17:110
Berdoalah dgn asmaulHusna
QS 46:11
QS 66:1-2 (at -Tahrim)
Persoalan dlm rumah tangga.
1) isteri nabi semua janda except sayyidatina Aisyah
2) Rasulullah menikah dgn Safiah - melembutkan hati kaumnya (safiah, putri yahudi)
3) kecemburuan-sifat semulajadi manusia dan ini urusan hati.
AlQuran turun pada ketika tertsntu (asbabunnuzul.)
-Boleh terima hadiah dari non muslim
- An- Nisa (QS 4:25)- nikahi hamba (perbudakan) halal disuatu ketika. Islam datang & slowly memerdekakan budak/hamba. Statusnya sama seperti barang.
QS 5:89
Kifarat sumpah (AtTahrim 66): penebusnya beri makan 10 org miskin/merdekakann budak.../ Puasa 3 hari
Islam muluk= islam dogma
QS4:34
Nabi menasihsti
Kaum laki- laki lebih kelebihan & lebih t'gungjawab.
Ciri-ciri wanita solehah (Taat & jaga maruah)
Nusyus= tak taat -> beri nasihst dgn baik (jgn merendah/caci). Pisahkan bilik/ boleh 'dipukul' (dhoroba=diancam)
QS4:128
kalau suami nusyus- berbincang/berdamai.
Hati yg tenang , fikiran yg jernih.
AnNur & An-nisa
QS4:128-129 kes poligami
Kalau tak bisa adil, cukup hanya satu.
QS4:129: adil di antara isteri2. (Melainkan kecintaan/batin).
Tadarus dan Tausiah Ramadhan -3
Tadarus dan Tausiah Ramadhan minggu ke-3 (edited)
(Tarikh: 22 Ramadhan 1434H = 2.8.2013)
(Bersama Yg. Bhg Ust. Didik Nur Haris Al-Hafidz)
Nota ringkas Tausiah:
QS 94
1) Nikmat dilapangkan dada.
Apa manfaatnya?
Beban yg berat pun dirasa ringan.
Kata kuncinya ialah HATI
Perintah agama ini satu ujian (QS 2:124)
Allah uji Nabi Ibrahim a.s. dgn ungkapan.
Ujian ini berat (mampu diringankan dgn berlapang dada).
Kita umatnya akan dimuliakan.
Untuk kebaikan kita.
Sesungguhnya bersama kesulitan ada KEMUDAHAN.
(QS 90:4)Al-Balad
Kalau komit dgn petunjuk agama-> ada ketenangan -> Kelapangan dada.
Setiap kesulitan ada memudahan.
Inna maalyusri yusra.
QS 57: 22
Allah cipta pertama sekali: Al- Qalam (50,000 sebelum dicipta langit & bumi)
Surah Al-A'raf- daun yg jatuh pun sudah ada catatan)
Takdir Allah (al'Alim (maha Mengetahui) & al-Hakim (maha Bijaksana).
QS 57: 23
2 hikmahnya:
1) kita dilatih supaya tidak berputus asa/resah dgn apa yg kita tidak dapat). Ada yg mengatur (pengaturan Allah sgt bijak)
2) agar tidak terlalu bangga.
Tawakal saja pada Allah.
Sungguh agung org yg MEMILIKI IMAN. Emosinya dapat dikawal -> Stabil (besyukur di kala senang; bersabar dan redho di kala susah.
(semuanya tenang & redho').
Saat diuji: sangat sulit.
Cara meringankan: Bayangkan musibah yg ditanggung masih lagi ringan
(supaya tidak terasa berat menerima dugaan)
Ujian yg paling berat ialah apabila melibatkan 'perkara agama':
ie Ujian Hidayah & istiqamah, iman & amalan).
ILMU sangat penting
- cari & buka ayat - ayat Al-Quran yg boleh meringankan ( cth: dgn selalu menyebut asmaulhusna yg 2 tadi (al'Alim & al-Hakim )
-Tahan banting (cekal & tak lupa diri).
Hadith:
-> yg membawa maksud: tidak ada yg Allah ambil kalau kita redho, melainkan dibalas dgn Syurga (note: perlu dicari hadith asal).
SABAR
-Sesungguhnya ilmu itu diperolehi dgn belajar
dan Sabar itu perlu berlatih
QS 2:155-157
-Kita pasti diuji... (Ketakutan. Kehilangan......)
-Beri khabar gembira kepada org yg diuji/ditimpa musibah (kata-kata optimistik)
Kalau menggembirakan saudara kita , 100,000 malaikat mendoakan kita). Ucapan innallah......
Inballahhiwainna,,,,, ( allah langsung redha kpdnta).
Org diuji yg mendapat petunjuk.
Sakit: allah akan gugurkan dosanya
1)Selalu bahagiakan hsti ( buka/ cari ayat)
2) ucapkan innalla....
Selawat dari Allah (ialah DOA)
Hadith: .... Penyakitnya diambil..... Tak dikembalikan.
QS3:165
Allah mahu membersihkan dosa (dgn ujian-ujian, semakin besar semakin bersih, saat sakaratuk maut, fitnah kubur, ketika dikumpulksn di padg mahsyar, melintasi silatir..
Hadith qudsi ( aku tergantung prasangka hambaku)
(Takut dan berharap )
Jgn sebut keburukan, hanya kebaikan -> zon positif
Hadith Kartu: berat shahadatain (jgn ptus asa, selalu mengharap. Semakin diuji semakin kuat imannya.
Salu Libatkan Allah.
QS ALISRA'17:110
Berdoalah dgn asmaulHusna
Sedang tak kuat
QS 46:11
QS 66:1-2 (at -Tahrim)
Persoalan dlm rumah tangga.
1) isteri nabi semua janda except aisyah
2) melembutkan hati kaumnya (safiah, putri yahudi)
3) kecemburuan
AlQuran turun pada keyika tertrntu (asbanul..)
-Boleh terima hadiah dari non muslim
- sunnah bertukar hadiah.
- an- Nisa (QS 4:25)- nikahi hamba (perbudakan) halal disuatu ketika. Islam datang & slowly memerdrkakan budak. Statusnya sama sepert barang.
QS 5:89
Kifarat sumpah (attahrim 66): penebusnya beri makan 10 org miskin/merdekakann budak.../ Puasa 3 hari
Islam muluk= islam dogma
QS4:34
Nabi menasihsti
Kaum laki- laki lebih kelebihan & lebih t'gungjawab.
Ciri-ciri wanita soleh. (Taat & jaga maruah)
Nusyus= tak taat , beri nasihst dgn baik(jgn mere dah/caci). Pisahkan bilik/ boleh dipukul (dhoroba=diancam)
QS4:128
kalau suami nusyus- berbincang/berdamai.
Hati yg tenang , fikiran yg jernih.
AnnNur & An-nisa
QS4:128-129 kes poligami
Kalau tak bisa adil, cukup hanya satu.
QS4:129: adil di antara isteri2. (Except kecintaan/batin).
Tadarus Ramadhan 2 bersama Ustadz Didik AlHafiz
Tausiah Ramadhan minggu ke2
Tadabur bersama Ustaz Didik
Nota ringkas:
2:186
Bertanya mengenai Allah:
Zatnya, sifatnya, perbuatannya
Mintalah/berdoalah dgn yakin & ikhlas, baik sangka.
(Jgn dgn hati yg lalai & tergesa-gesa)
Bersyukur & berlapang dada.
Adab & waktu yg makbul.
-> ikhlas, tawakal, berusaha, berbaik sangka, bersyukur.
Adab berdoa:
Berwudhu (solat)
Asmaulhusna
Istighfar
Org yg diterima doanya:
Org yg berpuasa
Org yg dizalimi
Waktu sebelum berbuka
Waktu sujud
Doa tak Kabul/doa yg ditolak:
Kita tidak memuliakan hak Allah
Baca AlQuran tapi tak amalkan
Mencontohi Rasulullah
Jgn ikut syaitan
Kita percaya neraka ada, buat baik tapi rasa 'ujub' (rasa kita lebih baik drp org lain). Ini membakar amalan kita. Ganti dgn istighfar & syukur. Also perasaan riak.
6) mati itu pasti tapi tak bersiap diri.
Melihat aib org, Tanpa lihat diri sendiri .
Selalulah ingat mati (bila hantar jenazah).
Selalu bersyukur
Menjaga silaturahim
Makanan & minuman yg haram.
(Selama 40 hari )
Selalu bersedekah.
Subscribe to:
Comments (Atom)